Bab kedua
Kaidah-kaidah syari'at
Selanjutnya kita melihat muqaddimah yang kedua tentang qawa'idusy syara' (kaidah-kaidah agama).
Kaidah pertama:
Firman Allah Jalla wa 'Ala dalam surah al-Maa-idah ayat 3:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu."
Ayat yang mulia ini menjelaskan kepad kita sebagai mukmin, bahwa Dinullah (agama Allah), syari'at yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah kamil (sempurna) dan tidak perlu ditambah dan dikurangi lagi. Siapa saja yang memberikan satu ziyadah (tambahan) yang tidak ada asal usulnya dari syari'at ini, maka tidak dapat tidak, baik secara sengaja atau tidak sengaja, secara langsung atau tidak secara langsung, dia telah membantah ayat yang mulia ini.
Ayat ini pun menjelaskan kepada kita bahwa tidak ada satupun masalah yang bersangkutan dengan agama ini yang tidak dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada satupun yang disembunyikan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sehingga beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak ada sesuatupun yang mendekatkan (kamu) ke Surga dan menjauhkan (kamu) dari Neraka melainkan sesungguhnya telah dijelaskan." (29)
Bacalah hadits-haditsnya dalam salah satu tulisan saya dengan judul Kesempurnaan Islam atau di salah satu kaset saya yang telah beredar tentang Kesempurnaan Islam.
Dengan demikian tidak boleh memberikan ziyadah (tambahan) ke dalam agama ini. Imam Malik rahimahullaah berkata:
"Barangsiapa yang mengerjakan satu bid'ah yang dia anggap bid'ah itu baik, sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengkhianati risalah."
Karena Allah telah berfirman:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu..." (Qur-an Surah al-Maa-idah: ayat 3)
Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi agama pada hari ini." (30)
Perkataan ini menjadi kaidah yang sangat besar sekali yang wajib dipahami oleh setiap muslim, bahwa agama ini telah sempurna, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Dan segala sesuatu telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Sehingga dengan kaidah ini, para pembaca dapat menyimpulkan sendiri apabila telah membaca buku Dialog dengan jin Muslim ini dan merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, kemudian menemukan hal-hal yang tidak ada keterangannya dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka semua itu hanyalah ziyadah (tambahan-tambahan) yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bersambung...
===
(29) Hadits shahih riwayat Imam ath-Thabrani dan yang lainnya, lihat takhrijnya secara panjang lebr dalam kitab al-Masaa-il jilid 1 halaman 77.
(30) Perkataan Imam Malik ini tertera dalam kitab al-I'tisham karya Imam asy-Syathibi 1/39 dan juga telah disebutkan dalam kitab as-Sunan wal Mubtada'aat halaman 7 karya Imam asy-Syaqiri, sebagai nukilan dari perkataan Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Dazammut Ta'wil. Dan juga telah disebutkan oleh Syaikh Jamal bin Ahmad bin as-Sirbadi dalam kitab Wujub Luzumil Jama'ah wa Tarkit Tafarruq halaman 147, lihat keterangannya dalam Risalah Bid'ah karya penulis pada halaman 9-10.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Showing posts with label jual daun bidara. Show all posts
Showing posts with label jual daun bidara. Show all posts
Alam jin: Jin bertempat tinggal
Bab pertama
Alam jin
Kesepuluh:
Syaithan juga bermalam dan bertempat tinggal (27), adakalanya mereka tinggal di rumah-rumah kita. Tetapi kita tidak perlu merasa takut, sebab Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, "Apabila seseorang masuk ke rumahnya dengan menyebut nama Allah (bismillah)..." (28)
Ini adalah suatu pelajaran yang sangat tinggi, yaitu menyebut nama Allah ketika masuk rumah yang mengakibatkan syaithan atau jin yang kufur tidak bisa bermalam di rumah kita. Kalau kita tidak mengucapkan asma Allah tatkala masuk ke rumah, jin yang kufur atau syaithan akan bermalam di rumah kita. Demikian juga apabila seseorang makan atau minum tidak mengucapkan bismillah maka syaithan ikut makan bersamanya.
Cukuplah beberapa keterangan tentang alam jin ini dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu akan berkepanjangan kalau saya terus menerus menerangkannya. Ini hanyalah sekedar muqaddimah, dan selebihnya bacalah ayat-ayat al-Qur-an dan as-Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beserta penjelasan para 'ulama tentang masalah alam jin ini.
===
(28) Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 2020 yang telah berlalu keterangannya sebelum ini.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Kesepuluh:
Syaithan juga bermalam dan bertempat tinggal (27), adakalanya mereka tinggal di rumah-rumah kita. Tetapi kita tidak perlu merasa takut, sebab Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, "Apabila seseorang masuk ke rumahnya dengan menyebut nama Allah (bismillah)..." (28)
Ini adalah suatu pelajaran yang sangat tinggi, yaitu menyebut nama Allah ketika masuk rumah yang mengakibatkan syaithan atau jin yang kufur tidak bisa bermalam di rumah kita. Kalau kita tidak mengucapkan asma Allah tatkala masuk ke rumah, jin yang kufur atau syaithan akan bermalam di rumah kita. Demikian juga apabila seseorang makan atau minum tidak mengucapkan bismillah maka syaithan ikut makan bersamanya.
Cukuplah beberapa keterangan tentang alam jin ini dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu akan berkepanjangan kalau saya terus menerus menerangkannya. Ini hanyalah sekedar muqaddimah, dan selebihnya bacalah ayat-ayat al-Qur-an dan as-Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beserta penjelasan para 'ulama tentang masalah alam jin ini.
===
(28) Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 2020 yang telah berlalu keterangannya sebelum ini.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Jin makan dan minum
Bab pertama
Alam jin
Kesembilan:
Bangsa jin itu juga makan seperti kita (25), hanya saja makanannya tidak sama dengan makanan kita dan adakalanya dia mencuri makanan kita sebagaimana syaithan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk menjaganya. Dan sebagian Shahabat yang lainnya radhiyallaahu 'anhum yang diamanatkan sesuatu, akan tetapi kemudian berkurang dan berkurang terus, karena dicuri oleh jin (26), karena jin mempunyai sifat suka mencuri.
===
(25) Di antara makanan mereka adalah:
1. Tulang dan kotoran, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 3647:
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya ia pernah bersama dengan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membawa seember (air) untuk keperluan wudhu' dan buang hajat beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka tatkala ia mengikuti beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa itu?" Ia menjawab, "Aku Abu Hurairah." Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Carikan aku beberapa batu untuk aku gunakan bersuci dan jangan kamu bawakan tulang dan kotoran binatang kepadaku." Maka aku membawakan untuk beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam batu-batu yang aku bawa dengan ujung (kain) pakaianku, kemudian aku letakkan di samping beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, kemudian aku pergi. Setelah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selesai, aku berjalan (menuju beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya), "Ada apa dengan tulang dan kotoran?" Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Keduanya termasuk dari makanan jin..."
2. Makanan manusia yang tidak menyebut nama Allah, berdasarkan hadits dalam kitab Shahih Muslim nomor 2018:
Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhu, sesungguhnya ia pernah mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Bila seseorang masuk rumahnya, lalu menyebut nam Allah ketika masuk dan ketika makan, maka syaithan berkata (kepada kelompoknya), 'Tidak ada penginapan bagi kamu dan tidak ada makanan malam bagi kamu.' Jika seseorang itu masuk rumahnya dan tidak menyebut nama Allah, maka syaithan berkata (kepada kelompoknya), 'Kamu mendapatkan penginapan.' Dan jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika makan, maka syaithan berkata (kepada kelompoknya), 'Kamu akan mendapatkan penginapan dan makanan untuk malam'."
3. Minuman terlarang, seperti minuman yang memabukkan, berdasarkan firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."
(Qur-an Surah al-Maa-idah: ayat 90)
Masih ada lagi beberapa macam makanan dan minuman jin. Silahkan lihat lengkapnya dalam kitab 'Alamul jinni wa syayathiin karya DR. Sulaiman al-Asyqar di beberapa tempat, di antaranya halaman 25-27, dan halaman 77.
(26) Maksudnya adalah kisah Ubay bin Ka'ab radhiyallaahu 'anhu yang tercantum dalam kitab Sunanul Kubra karya Imam an-Nasaa-i dan lain-lain, dengan lafazh berikut:
Dari Ubay bin Ka'ab radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya Ubay pernah menjaga penjemuran kurma dan ia mendapatinya mengurang (terus), maka dia pun menjaganya (dengan seksama), dia pun mendapati seekor binatang yang menyerupai seorang anak kecil yang sudah baligh. (Ubay) berkata: Aku mengucapkan salam kepadanya, maka ia pun menjawab salamku, maka aku bertanya, "Siapa kamu, jin atau manusia?" Ia menjawab, "Jin." Ia berkata, "Peganglah tanganku." Maka aku pun memegang tangannya. Ternyata tangannya adalah tangan anjing dan bulu anjing, ia berkata, "Beginilah bentuk rupa jin," ia berkata, "Aku telah mengetahui bahwa pada bangsa jin ada yang lebih daripada aku." Ubay berkata kepadanya, "Apa yang membuatmu berbuat seperti itu?" Ia menjawab, "Telah sampai (berita) kepada kami bahwa engkau adalah orang yang suka bershadaqah, maka kami ingin mendapatkan bagian dari makananmu." Maka Ubay bertanya lagi, "Apa yang dapat menjaga kami dari kamu?" Ia menjawab, "Ayat ini (yaitu) ayat kursi." Kemudian Ubay pergi (menemui) Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan mengabarkan kejadian tersebut (kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pun bersabda, "Benarlah si khabits (yang buruk)."
Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam an-Nasaa-i dalam kitab Sunanul Kubra dan dalam kitab 'Amalul Yaum wal Lailah nomor 966-967, Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu'jamul Kabir 1/201 nomor 541, Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan yang lainnya, lihat juga keterangan yang lengkap dari al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fat-hul Bari 4/489.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Kesembilan:
Bangsa jin itu juga makan seperti kita (25), hanya saja makanannya tidak sama dengan makanan kita dan adakalanya dia mencuri makanan kita sebagaimana syaithan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk menjaganya. Dan sebagian Shahabat yang lainnya radhiyallaahu 'anhum yang diamanatkan sesuatu, akan tetapi kemudian berkurang dan berkurang terus, karena dicuri oleh jin (26), karena jin mempunyai sifat suka mencuri.
===
(25) Di antara makanan mereka adalah:
1. Tulang dan kotoran, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 3647:
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya ia pernah bersama dengan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membawa seember (air) untuk keperluan wudhu' dan buang hajat beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka tatkala ia mengikuti beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa itu?" Ia menjawab, "Aku Abu Hurairah." Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Carikan aku beberapa batu untuk aku gunakan bersuci dan jangan kamu bawakan tulang dan kotoran binatang kepadaku." Maka aku membawakan untuk beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam batu-batu yang aku bawa dengan ujung (kain) pakaianku, kemudian aku letakkan di samping beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, kemudian aku pergi. Setelah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selesai, aku berjalan (menuju beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya), "Ada apa dengan tulang dan kotoran?" Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Keduanya termasuk dari makanan jin..."
2. Makanan manusia yang tidak menyebut nama Allah, berdasarkan hadits dalam kitab Shahih Muslim nomor 2018:
Dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhu, sesungguhnya ia pernah mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Bila seseorang masuk rumahnya, lalu menyebut nam Allah ketika masuk dan ketika makan, maka syaithan berkata (kepada kelompoknya), 'Tidak ada penginapan bagi kamu dan tidak ada makanan malam bagi kamu.' Jika seseorang itu masuk rumahnya dan tidak menyebut nama Allah, maka syaithan berkata (kepada kelompoknya), 'Kamu mendapatkan penginapan.' Dan jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika makan, maka syaithan berkata (kepada kelompoknya), 'Kamu akan mendapatkan penginapan dan makanan untuk malam'."
3. Minuman terlarang, seperti minuman yang memabukkan, berdasarkan firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."
(Qur-an Surah al-Maa-idah: ayat 90)
Masih ada lagi beberapa macam makanan dan minuman jin. Silahkan lihat lengkapnya dalam kitab 'Alamul jinni wa syayathiin karya DR. Sulaiman al-Asyqar di beberapa tempat, di antaranya halaman 25-27, dan halaman 77.
(26) Maksudnya adalah kisah Ubay bin Ka'ab radhiyallaahu 'anhu yang tercantum dalam kitab Sunanul Kubra karya Imam an-Nasaa-i dan lain-lain, dengan lafazh berikut:
Dari Ubay bin Ka'ab radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya Ubay pernah menjaga penjemuran kurma dan ia mendapatinya mengurang (terus), maka dia pun menjaganya (dengan seksama), dia pun mendapati seekor binatang yang menyerupai seorang anak kecil yang sudah baligh. (Ubay) berkata: Aku mengucapkan salam kepadanya, maka ia pun menjawab salamku, maka aku bertanya, "Siapa kamu, jin atau manusia?" Ia menjawab, "Jin." Ia berkata, "Peganglah tanganku." Maka aku pun memegang tangannya. Ternyata tangannya adalah tangan anjing dan bulu anjing, ia berkata, "Beginilah bentuk rupa jin," ia berkata, "Aku telah mengetahui bahwa pada bangsa jin ada yang lebih daripada aku." Ubay berkata kepadanya, "Apa yang membuatmu berbuat seperti itu?" Ia menjawab, "Telah sampai (berita) kepada kami bahwa engkau adalah orang yang suka bershadaqah, maka kami ingin mendapatkan bagian dari makananmu." Maka Ubay bertanya lagi, "Apa yang dapat menjaga kami dari kamu?" Ia menjawab, "Ayat ini (yaitu) ayat kursi." Kemudian Ubay pergi (menemui) Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan mengabarkan kejadian tersebut (kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pun bersabda, "Benarlah si khabits (yang buruk)."
Hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam an-Nasaa-i dalam kitab Sunanul Kubra dan dalam kitab 'Amalul Yaum wal Lailah nomor 966-967, Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu'jamul Kabir 1/201 nomor 541, Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan yang lainnya, lihat juga keterangan yang lengkap dari al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fat-hul Bari 4/489.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Jin ada yang laki-laki dan ada yang perempuan
Bab pertama
Alam jin
Kedelapan:
Bahwa jin atau syaithan itu ada yang laki-laki dan ada yang perempuan dan mereka sama dengan kita, kawin dan bercampur antara laki-laki dan perempuan. Dalilnya adalah ayat al-Qur-an dalam surah al-Jin ayat 6:
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan."
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelum ini dan juga hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau akan masuk jamban, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdo'a:
اَللّهُمَّ اِنىِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jin yang laki-laki dan yang perempuan. (23)
Hadits di atas menjelaskan apabila kita hendak masuk jamban, buang air kecil atau buang air besar, disyari'atkan untuk mengucapkan do'a tersebut, untuk memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan laki-laki dan perempuan, dari jin laki-laki dan perempuan yang jahat itu. Yang menunjukkan bahwa jin atau syaithan ada yang laki-laki dan ada juga yang perempuan dan mereka pun bercampur (jimak). Hanya saja syaithan atau jin yang kufur itu bercampurnya di tengah-tengah jalan, yang terlihat oleh sesama mereka, tidak terlihat oleh kita. Salah satu hikmahnya adalah tersembunyinya perbuatan itu dari pandangan mata kita, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lain dengan sanad yang dha'if dari jalan Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, akan tetapi hadits ini menjadi hasan, karena beberapa syawahidnya. (24)
===
(23) Hadits muttafaq 'alaihi, Imam al-Bukhari nomor 132 dan 5962, dan Imam Muslim nomor 375 dan yang lainnya.
(24) Sepertinya penulis mengisyaratkan kepada hadits Asma binti Yazid dengan lafazh sebagai berikut:
Dari Asma binti Yazid, sesungguhnya dia sedang berada di sisi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan gerombolan laki-laki dan wanita berkumpul di sisinya, maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda (kepada mereka), "Sepertinya ada seorang laki-laki yang menceritakan apa yang ia kerjakan dengan isterinya dan sepertinya ada seorang wanita yang menceritakan apa yang ia kerjakan bersama suaminya," orang-orang itu pun merendahkan (suara mereka), maka aku berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah, mereka para wanita benar-benar telah melakukannya dan mereka kaum laki-laki pun benar-benar telah melakukannya." Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Janganlah kamu melakukannya, karena perbuatan itu seperti perbuatan syaithan (laki-laki) yang bertemu dengan syaithan wanita, maka dia pun menyetubuhinya dan orang-orang melihatnya."
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 16/22 nomor 237 -kitab Fathur Rabbani-, dan Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu'jamul Kabir 24/162 nomor 414, dan al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Majma'uz Zawaid 4/294 berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dan di dalamnya ada (perawi yang bernama) Syahr bin Hausyab dan haditsnya hasan. Padanya ada kelemahan." Wallaahu a'lam.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Kedelapan:
Bahwa jin atau syaithan itu ada yang laki-laki dan ada yang perempuan dan mereka sama dengan kita, kawin dan bercampur antara laki-laki dan perempuan. Dalilnya adalah ayat al-Qur-an dalam surah al-Jin ayat 6:
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan."
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelum ini dan juga hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau akan masuk jamban, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdo'a:
اَللّهُمَّ اِنىِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jin yang laki-laki dan yang perempuan. (23)
Hadits di atas menjelaskan apabila kita hendak masuk jamban, buang air kecil atau buang air besar, disyari'atkan untuk mengucapkan do'a tersebut, untuk memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan laki-laki dan perempuan, dari jin laki-laki dan perempuan yang jahat itu. Yang menunjukkan bahwa jin atau syaithan ada yang laki-laki dan ada juga yang perempuan dan mereka pun bercampur (jimak). Hanya saja syaithan atau jin yang kufur itu bercampurnya di tengah-tengah jalan, yang terlihat oleh sesama mereka, tidak terlihat oleh kita. Salah satu hikmahnya adalah tersembunyinya perbuatan itu dari pandangan mata kita, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan lain-lain dengan sanad yang dha'if dari jalan Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, akan tetapi hadits ini menjadi hasan, karena beberapa syawahidnya. (24)
===
(23) Hadits muttafaq 'alaihi, Imam al-Bukhari nomor 132 dan 5962, dan Imam Muslim nomor 375 dan yang lainnya.
(24) Sepertinya penulis mengisyaratkan kepada hadits Asma binti Yazid dengan lafazh sebagai berikut:
Dari Asma binti Yazid, sesungguhnya dia sedang berada di sisi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan gerombolan laki-laki dan wanita berkumpul di sisinya, maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda (kepada mereka), "Sepertinya ada seorang laki-laki yang menceritakan apa yang ia kerjakan dengan isterinya dan sepertinya ada seorang wanita yang menceritakan apa yang ia kerjakan bersama suaminya," orang-orang itu pun merendahkan (suara mereka), maka aku berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah, mereka para wanita benar-benar telah melakukannya dan mereka kaum laki-laki pun benar-benar telah melakukannya." Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Janganlah kamu melakukannya, karena perbuatan itu seperti perbuatan syaithan (laki-laki) yang bertemu dengan syaithan wanita, maka dia pun menyetubuhinya dan orang-orang melihatnya."
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 16/22 nomor 237 -kitab Fathur Rabbani-, dan Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu'jamul Kabir 24/162 nomor 414, dan al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Majma'uz Zawaid 4/294 berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani dan di dalamnya ada (perawi yang bernama) Syahr bin Hausyab dan haditsnya hasan. Padanya ada kelemahan." Wallaahu a'lam.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Kesurupan jin
Bab pertama
Alam jin
Ketujuh:
Manusia itu dapat dirasuki oleh jin, dengan kata lain "kesurupan".
Kesurupan itu betul ada (19), yakni seseorang yang tubuhnya dimasuki oleh jin, sehingga dia berbicara dengan bahasa dan suara yang lain, tingkah laku yang lain dan seterusnya. Itu adalah 'aqidah (keyakinan) ahlus Sunnah wal jama'ah, yang menyalahi 'aqidah ahlul bida' wal iftiraq (ahli bid'ah dab perpecahan), yaitu kaum mu'tazilah (20) yang mengingkari bahwa manusia itu bisa dirasuki oleh jin.
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda, "Syaithan itu berjalan ke tubuh manusia mengikuti perjalanan darah." (21) Dalil para 'ulama kita ada firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 275:
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya."
Sayaa berkata: Kata "al-Mass" dalam ayat di atas berarti sentuhan dan masukan. Dari sinilah kemudian ditafsirkan oleh para 'ulama kita bahwa syaithan atau jin dapat memasuki tubuh manusia dan mempengaruhinya melalui ucapan maupun tindakan (22).
Yang perlu kita ketahui, bahwa zaman sekarang banyak orang bertingkah laku seperti orang kesurupan tetapi sebenarnya tidak kesurupan. Karena apabila manusia mengalami kegoncangan dan beban yang berat, terkadang bisa berubah ucapan maupun perbuatannya menyerupai orang kesurupan. Adakalanya dia pura-pura kesurupan dan yang seperti ini banyak sekali. Ini sekedar komentar untuk menjelaskan bahwa tidak semua keanehan yang terjadi di antara kita disebut kesurupan.
===
(19) Kesurupan jin itu harus diyakini kebenarannya, berdasarkan dalil dari al-Qur-an, Sunnah dan dalil musyahadah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dan tidak ada perselisihan di antara para imam-imam kaum muslimin dalam hal ini, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu' Fatawa 19/12.
(20) Yakni segolongan dari kaum mu'tazilah saja, seperti al-Jabaa-iy dan Abu Bakar ar-Raaziy, lihat kitab 'Alamul jin wa syayathiin, karya Dr. Sulaiman al-Asyqar halaman 78.
(21) Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 3281 dan 7171 dan Imam Muslim nomor 2170, dengan lafazh sebagai berikut:
Dari Anas radhiyallaahu 'anhu, sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah bersama seorang isteri beliau, maka berlalulah seseorang di hadapannya, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pun memanggilnya dan orang itu pun mendatangi beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata kepadanya, "Ini adalah isteriku fulanah", kemudian orang itu berkata, "Aku tidak mengira engkau, wahai Rasulullahl, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya syaithan berjalan di tubuh manusia (mengikuti peredaran) darah."
(22) Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu' Fatawa 24/276-277.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Ketujuh:
Manusia itu dapat dirasuki oleh jin, dengan kata lain "kesurupan".
Kesurupan itu betul ada (19), yakni seseorang yang tubuhnya dimasuki oleh jin, sehingga dia berbicara dengan bahasa dan suara yang lain, tingkah laku yang lain dan seterusnya. Itu adalah 'aqidah (keyakinan) ahlus Sunnah wal jama'ah, yang menyalahi 'aqidah ahlul bida' wal iftiraq (ahli bid'ah dab perpecahan), yaitu kaum mu'tazilah (20) yang mengingkari bahwa manusia itu bisa dirasuki oleh jin.
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda, "Syaithan itu berjalan ke tubuh manusia mengikuti perjalanan darah." (21) Dalil para 'ulama kita ada firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 275:
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya."
Sayaa berkata: Kata "al-Mass" dalam ayat di atas berarti sentuhan dan masukan. Dari sinilah kemudian ditafsirkan oleh para 'ulama kita bahwa syaithan atau jin dapat memasuki tubuh manusia dan mempengaruhinya melalui ucapan maupun tindakan (22).
Yang perlu kita ketahui, bahwa zaman sekarang banyak orang bertingkah laku seperti orang kesurupan tetapi sebenarnya tidak kesurupan. Karena apabila manusia mengalami kegoncangan dan beban yang berat, terkadang bisa berubah ucapan maupun perbuatannya menyerupai orang kesurupan. Adakalanya dia pura-pura kesurupan dan yang seperti ini banyak sekali. Ini sekedar komentar untuk menjelaskan bahwa tidak semua keanehan yang terjadi di antara kita disebut kesurupan.
===
(19) Kesurupan jin itu harus diyakini kebenarannya, berdasarkan dalil dari al-Qur-an, Sunnah dan dalil musyahadah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dan tidak ada perselisihan di antara para imam-imam kaum muslimin dalam hal ini, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu' Fatawa 19/12.
(20) Yakni segolongan dari kaum mu'tazilah saja, seperti al-Jabaa-iy dan Abu Bakar ar-Raaziy, lihat kitab 'Alamul jin wa syayathiin, karya Dr. Sulaiman al-Asyqar halaman 78.
(21) Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 3281 dan 7171 dan Imam Muslim nomor 2170, dengan lafazh sebagai berikut:
Dari Anas radhiyallaahu 'anhu, sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah bersama seorang isteri beliau, maka berlalulah seseorang di hadapannya, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pun memanggilnya dan orang itu pun mendatangi beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata kepadanya, "Ini adalah isteriku fulanah", kemudian orang itu berkata, "Aku tidak mengira engkau, wahai Rasulullahl, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya syaithan berjalan di tubuh manusia (mengikuti peredaran) darah."
(22) Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu' Fatawa 24/276-277.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Bentuk asli jin tidak dapat dilihat oleh manusia
Bab pertama
Alam jin
Keenam:
Jin, termasuk iblis beserta kaumnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita, manusia tidak bisa melihat jin (15). Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
(Qur-an Surah al-A'raaf: ayat 27)
Ini pernah terjadi pada masa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ingat tatkala Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu didatangi oleh syaithan, dan kisah tersebut telah saya terangkan dalam salah satu tulisan saya (16).
Bahkan sebagian 'ulama kita mengatakan, "Dahulu salah satu golongan yang membuat hadits palsu itu adalah syaithan-syaithan yang menyamar menjadi manusia." (17)
Kita tidak bisa melihat rupa jin yang aslinya, kecuali apabila mereka datang kepada kita dengan rupa yang lainnya. Oleh karena itu, banyaak penyamaran jin dan syaithan yang merupakan bentuk talbis (penipuan mereka) terhadap manusia, untuk mengganggu manusia.
Mereka datangi manusia dengan berbagai macam rupa, ada yang datang dengan rupa perempuan, apa yang kita namakan di sini dengan "kuntilanak", "gondoruwo" atau nama-nama yang lainnya, sangat bermacam-macam dan banyak sekali. Demikian juga yang laki-laki ada yang datang dengan rupa "hantu" dan yang paling kecil disebut dengan "tuyul" dan nama-nama yang lainnya yang dibuat sendiri oleh manusia. Itulah tipu daya iblis dan balatentaranya untuk menipu manusia.
Tersebarlah fitnah di permukaan bumi ini. Akibatnya manusia semakin membesarkan dan mengagungkan iblis dengan penuh rasa takut. Sehingga bangun bulu kuduk apabila disebut atau terdengar nama mereka. Itulah tipu daya iblis.
Mereka bisa menyamar dengan rupa apa saja (18). Adakalanya dia menyamar dengan menyerupai orang shalih dari 'ulama-'ulama kita yang terdahulu. Maka datanglah mereka kepada orang-orang yang bodoh. Dia menyamar sebagai para wali yang terdahulu, datang memakai gamis dan sorban, sambil memegang tasbih -rupanya si jin lupa (*) kalau tasbih itu bid'ah-. Dinasihatilah orang-orang yang tidak mengerti itu, "Wahai anakku, cucuku, aku ini wali fulan, sebarkan salam, perintahkan manusia untuk berbuat begini dan begitu, aku akan beritahu kepadamu yang manusia tidak tahu..." Seolah-olah al-Qur-an belum pernah menerangkannya. Lalu orang yang didatangi tersebut akan menyebarkan hal itu kepada manusia yang lain, dari kalangan orang-orang yang bodoh dan tidak mengerti agama. Akibatnya apa? Timbulnya pemujaan terhadap kuburan para wali tersebut. Itulah salah satu akibatnya dan begitu seterusnya tipu daya iblis itu (**).
===
(15) Maksudnya, melihat jin dalam bentuk aslinya. Adapun jika melihat mereka setelah berubah bentuk, seperti: manusia atau hewan, maka dapat dilihat, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu yang akan datang setelah ini dan dalil-dalil yang banyak lainnya. Lihat keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah dalam kitab Fat-hul Baari' 4/489.
(16) Lihat keterangannya dalam kitab penulis yang berjudul al-Masaa-il jilid 1 halamaan 269-282 masalah yang ke 21 dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 2311 dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu dengan lafazh sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mewakilkan kepadaku untuk menjaga (harta) zakat Ramadhan, kemudian datanglah seseorang. Dia mengambil sebagian makanan, maka aku menangkapnya dan aku katakan (kepadanya), "Demi Allh, aku benar-benar akan menyampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Dia menjawab, "Sungguh aku sedang butuh. Aku punya keluarga dan keperluan yang sangat mendesak." Abu Hurairah berkata, "Lalu aku melepaskannya." Kemudian sewaktu pagi, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Jawabnya, "Wahaai Rasulullah, dia mengadukan keperluannya yang sangat mendesak dengan keluarganya. Karena itu aku kasihan kepadanya, maka aku lepaskan dia." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah membohongimu dan ia akan kembali." Dan aku dengan pasti bahwa dia akan kembali berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu aku pun menunggunya. Kemudian dia datang lagi menuang sebagian makanan, maka aku menangkapnya dan aku katakan (kepadanya), "Sungguh akan kusampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Dia menjawab, "Lepaskanlah aku, karena aku sedang butuh dan punya keluarga. Aku tidak akan kembali lagi." Lalu aku kasihan kepadanya, lantas aku lepaskan dia. Kemudian sewaktu pagi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Jawabku, "Wahai Rasulullah, dia telah mengeluhkan keperluan yang sangat mendesak dengan keluarganya. Karena itu aku kasihan kepadanya, maka aku lepaskan dia." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah membohongimu dan ia akan kembali lagi." Maka aku pun menunggunya untuk yang ketiga kali. Kemudian dia datang lagi mengambil sebagian makanan, maka aku pun menangkapnya, lalu aku katakan (kepadanya), "Sungguh akan kusampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Dan ini merupakan yang terakhir setelah tiga kali kamu berjanji untuk tidak kembali, ternyata kamu kembali lagi!" Dia berkata, "Mari aku ajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang karenanya Allah memberi manfaat kepadamu." Aku bertanya, "Kalimat apakah itu?" Jawabnya, "Bila kamu hendak beranjak ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi (Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum) sampai engkau menamatkan ayat ini. Maka dengan demikian engkau akan punya penjaga dari Allah dan tidak akan didekati syaithan hingga pagi." Karena itu aku lepaskan dia. Kemudian sewaktu pagi, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, "Apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Aku jawab, "Wahai Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku kalimat-kalimat yang karenanya Allah akan memberi manfaat kepadaku. Karena itu aku lepaskan dia." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Apa kalimat itu?" Aku jawab, "Dia berkata kepadaku: Bila kamu hendak beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari pertama hingga tamat (Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum...). Selanjutnya dia berkata: Dengan demikian engkau akan punya penjaga dari Allah dan engkau tidak akan didekati syaithan hingga pagi." Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Adapun dia telah berkata yang benar (pada kali ini), padahal dia pembohong! Tahukah engkau siapa yang berbicara denganmu selama tiga malam itu?" Jawabnya, "Tidak tahu." Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Itulah syaithan."
Dari hadits ini kita mengetahui bahwasanya sifat syaithan itu adalah pembohong, walaupun terkadang dia benar, maka kita harus berhati-hati ketika berdialog dengan mereka. Wallahu a'lam.
(17) Telah disebutkan di dalam Muqoddimah kitab Shahiih Muslim 1/73 - Syarah an-Nawawi dari perkataan 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, sebagai berikut:
'Abdullah (Ibnu Mas'ud) radhiyallaahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya syaithan itu menjelma dalam wujud seorang laki-laki, kemudian dia datang kepada sebuah kaum, dan dia menceritakan sebuah hadits dengan dusta, lalu mereka pun berpencar, maka salah seorang di antara mereka itu berkata (kepada yang lainnya lagi): 'Aku telah mendengar seseorang laki-laki yang aku ketahui mukanya, akan tetapi tidak aku ketahui namanya telah menceritakan kepadaku (sebuah hadits)."
Masih ada lagi beberapa keterangan yang lainnya, siapa yang ingin untuk mengetahuinya lebih banyak, maka bacalah Muqoddimah kitab Shahiih Muslim.
(18) Dikecualikan rupa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam mimpi, berdasarkan banyak dalil dalam Sunnah. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallaahu 'anhu dalam kitab Shahiih al-Bukhari nomor 6993 dan Imam Muslim nomor 2266:
"Siapa yang bermimpi melihatku, maka dia telah melihatku, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku."
Juga telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhum ajma'in.
(*) komentarku (Abu Sahla -baitulkahfi-): atau sengaja menyebarkan bid'ah kepada orang muslim yang bodoh, agar manusia bodoh itu menyangka bahwa tasbih itu adalah sunnah karena dipakai oleh wali (yang sebenarnya adalah jin) yang datang kepadanya.
(**) komentarku (Abu Sahla): dan akibat lainnya adalah diyakininya orang yang mengaku didatangi wali (yang sebenarnya adalah jin) tersebut sebagai orang yang memiliki kelebihan "ghaib" lalu orang itu mengobati orang lain dengan pengobatan yang menyimpang dan berdakwah tanpa 'ilmu.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Keenam:
Jin, termasuk iblis beserta kaumnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita, manusia tidak bisa melihat jin (15). Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
(Qur-an Surah al-A'raaf: ayat 27)
Ini pernah terjadi pada masa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ingat tatkala Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu didatangi oleh syaithan, dan kisah tersebut telah saya terangkan dalam salah satu tulisan saya (16).
Bahkan sebagian 'ulama kita mengatakan, "Dahulu salah satu golongan yang membuat hadits palsu itu adalah syaithan-syaithan yang menyamar menjadi manusia." (17)
Kita tidak bisa melihat rupa jin yang aslinya, kecuali apabila mereka datang kepada kita dengan rupa yang lainnya. Oleh karena itu, banyaak penyamaran jin dan syaithan yang merupakan bentuk talbis (penipuan mereka) terhadap manusia, untuk mengganggu manusia.
Mereka datangi manusia dengan berbagai macam rupa, ada yang datang dengan rupa perempuan, apa yang kita namakan di sini dengan "kuntilanak", "gondoruwo" atau nama-nama yang lainnya, sangat bermacam-macam dan banyak sekali. Demikian juga yang laki-laki ada yang datang dengan rupa "hantu" dan yang paling kecil disebut dengan "tuyul" dan nama-nama yang lainnya yang dibuat sendiri oleh manusia. Itulah tipu daya iblis dan balatentaranya untuk menipu manusia.
Tersebarlah fitnah di permukaan bumi ini. Akibatnya manusia semakin membesarkan dan mengagungkan iblis dengan penuh rasa takut. Sehingga bangun bulu kuduk apabila disebut atau terdengar nama mereka. Itulah tipu daya iblis.
Mereka bisa menyamar dengan rupa apa saja (18). Adakalanya dia menyamar dengan menyerupai orang shalih dari 'ulama-'ulama kita yang terdahulu. Maka datanglah mereka kepada orang-orang yang bodoh. Dia menyamar sebagai para wali yang terdahulu, datang memakai gamis dan sorban, sambil memegang tasbih -rupanya si jin lupa (*) kalau tasbih itu bid'ah-. Dinasihatilah orang-orang yang tidak mengerti itu, "Wahai anakku, cucuku, aku ini wali fulan, sebarkan salam, perintahkan manusia untuk berbuat begini dan begitu, aku akan beritahu kepadamu yang manusia tidak tahu..." Seolah-olah al-Qur-an belum pernah menerangkannya. Lalu orang yang didatangi tersebut akan menyebarkan hal itu kepada manusia yang lain, dari kalangan orang-orang yang bodoh dan tidak mengerti agama. Akibatnya apa? Timbulnya pemujaan terhadap kuburan para wali tersebut. Itulah salah satu akibatnya dan begitu seterusnya tipu daya iblis itu (**).
===
(15) Maksudnya, melihat jin dalam bentuk aslinya. Adapun jika melihat mereka setelah berubah bentuk, seperti: manusia atau hewan, maka dapat dilihat, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu yang akan datang setelah ini dan dalil-dalil yang banyak lainnya. Lihat keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah dalam kitab Fat-hul Baari' 4/489.
(16) Lihat keterangannya dalam kitab penulis yang berjudul al-Masaa-il jilid 1 halamaan 269-282 masalah yang ke 21 dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 2311 dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu dengan lafazh sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mewakilkan kepadaku untuk menjaga (harta) zakat Ramadhan, kemudian datanglah seseorang. Dia mengambil sebagian makanan, maka aku menangkapnya dan aku katakan (kepadanya), "Demi Allh, aku benar-benar akan menyampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Dia menjawab, "Sungguh aku sedang butuh. Aku punya keluarga dan keperluan yang sangat mendesak." Abu Hurairah berkata, "Lalu aku melepaskannya." Kemudian sewaktu pagi, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Jawabnya, "Wahaai Rasulullah, dia mengadukan keperluannya yang sangat mendesak dengan keluarganya. Karena itu aku kasihan kepadanya, maka aku lepaskan dia." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah membohongimu dan ia akan kembali." Dan aku dengan pasti bahwa dia akan kembali berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu aku pun menunggunya. Kemudian dia datang lagi menuang sebagian makanan, maka aku menangkapnya dan aku katakan (kepadanya), "Sungguh akan kusampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Dia menjawab, "Lepaskanlah aku, karena aku sedang butuh dan punya keluarga. Aku tidak akan kembali lagi." Lalu aku kasihan kepadanya, lantas aku lepaskan dia. Kemudian sewaktu pagi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Jawabku, "Wahai Rasulullah, dia telah mengeluhkan keperluan yang sangat mendesak dengan keluarganya. Karena itu aku kasihan kepadanya, maka aku lepaskan dia." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah membohongimu dan ia akan kembali lagi." Maka aku pun menunggunya untuk yang ketiga kali. Kemudian dia datang lagi mengambil sebagian makanan, maka aku pun menangkapnya, lalu aku katakan (kepadanya), "Sungguh akan kusampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Dan ini merupakan yang terakhir setelah tiga kali kamu berjanji untuk tidak kembali, ternyata kamu kembali lagi!" Dia berkata, "Mari aku ajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang karenanya Allah memberi manfaat kepadamu." Aku bertanya, "Kalimat apakah itu?" Jawabnya, "Bila kamu hendak beranjak ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi (Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum) sampai engkau menamatkan ayat ini. Maka dengan demikian engkau akan punya penjaga dari Allah dan tidak akan didekati syaithan hingga pagi." Karena itu aku lepaskan dia. Kemudian sewaktu pagi, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, "Apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Aku jawab, "Wahai Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku kalimat-kalimat yang karenanya Allah akan memberi manfaat kepadaku. Karena itu aku lepaskan dia." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Apa kalimat itu?" Aku jawab, "Dia berkata kepadaku: Bila kamu hendak beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari pertama hingga tamat (Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum...). Selanjutnya dia berkata: Dengan demikian engkau akan punya penjaga dari Allah dan engkau tidak akan didekati syaithan hingga pagi." Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Adapun dia telah berkata yang benar (pada kali ini), padahal dia pembohong! Tahukah engkau siapa yang berbicara denganmu selama tiga malam itu?" Jawabnya, "Tidak tahu." Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Itulah syaithan."
Dari hadits ini kita mengetahui bahwasanya sifat syaithan itu adalah pembohong, walaupun terkadang dia benar, maka kita harus berhati-hati ketika berdialog dengan mereka. Wallahu a'lam.
(17) Telah disebutkan di dalam Muqoddimah kitab Shahiih Muslim 1/73 - Syarah an-Nawawi dari perkataan 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, sebagai berikut:
'Abdullah (Ibnu Mas'ud) radhiyallaahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya syaithan itu menjelma dalam wujud seorang laki-laki, kemudian dia datang kepada sebuah kaum, dan dia menceritakan sebuah hadits dengan dusta, lalu mereka pun berpencar, maka salah seorang di antara mereka itu berkata (kepada yang lainnya lagi): 'Aku telah mendengar seseorang laki-laki yang aku ketahui mukanya, akan tetapi tidak aku ketahui namanya telah menceritakan kepadaku (sebuah hadits)."
Masih ada lagi beberapa keterangan yang lainnya, siapa yang ingin untuk mengetahuinya lebih banyak, maka bacalah Muqoddimah kitab Shahiih Muslim.
(18) Dikecualikan rupa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam mimpi, berdasarkan banyak dalil dalam Sunnah. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallaahu 'anhu dalam kitab Shahiih al-Bukhari nomor 6993 dan Imam Muslim nomor 2266:
"Siapa yang bermimpi melihatku, maka dia telah melihatku, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku."
Juga telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhum ajma'in.
(*) komentarku (Abu Sahla -baitulkahfi-): atau sengaja menyebarkan bid'ah kepada orang muslim yang bodoh, agar manusia bodoh itu menyangka bahwa tasbih itu adalah sunnah karena dipakai oleh wali (yang sebenarnya adalah jin) yang datang kepadanya.
(**) komentarku (Abu Sahla): dan akibat lainnya adalah diyakininya orang yang mengaku didatangi wali (yang sebenarnya adalah jin) tersebut sebagai orang yang memiliki kelebihan "ghaib" lalu orang itu mengobati orang lain dengan pengobatan yang menyimpang dan berdakwah tanpa 'ilmu.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Manusia lebih mulia daripada jin
Bab pertama
Alam jin
Kelima:
Mana yang lebih mulia antara manusia dan jin? Saya tidak ragu lagi untuk mengatakan bahwa manusia lebih mulia daripada jin. Bahkan sebagian 'ulama kita mengatakan bahwa manusia lebih mulia dari Malaikat, walaupun hal ini masih diperselisihkan (14). Akan tetapi tentang jin, saya belum pernah menemukan perselisihan di antara para 'ulama bahwa manusia itu lebih mulia kedudukannya daripada jin.
Adapun ketaqwaannya, maka berlakulah keumuman firman Allah dalam Qur-an surah al-Hujuraat ayat 13:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Manusia yang durhaka dengan jin yang taqwa, lebih mulia jin. Apabila ditinjau dari jenisnya, maka tidak diragukan lagi bahwa manusia itu lebih mulia daripada jin, dalilnya adalah firman Allah dalam Qur-an surah al-Baqarah ayat 34:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir."
Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongaan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur dan besar kepala. Allah berfirman dalam Qur-an surah al-Jin ayat 6:
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta pertolongan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan."
Ayat ini juga menunjukkan bahwa jin itu ada yang laki-laki dan ada yang perempuan, sama seperti manusia, sebagaimana yang akan saya terangkan, insya Allahu Ta'ala.
Ayat ini juga menceritakan perbuatan orang-orang jahiliyah, yakni apabila mereka hendak melewati suatu lembah, mereka memohon kepada penunggu lembah tersebut (yaitu jin) supaya mereka dapat terhindar dari marabahaya. Perbuatan ini persis seperti yang dilakukan sebagian kaum kita. Ketika sebagian kaum kita hendak membangun jembatan, maka disediakanlah kepala kerbau untuk memohon perlindungan dari marabahaya kepada penunggu jembatan tersebut dan yang seperti ini banyak sekali. Jika mereka hendak buang air kecil di pohon-pohon yang dianggap keramat dan ada penunggunya dari kalangan jin, mereka harus mengucapkan "numpang-numpang" sebanyak tiga kali, begitulah yang terjadi pada kaum kita.
Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang membuat jin semakin besar kepala dan bangga. Mengapa manusia yang lebih mulia meminta kepada yang lebih rendah darinya? Padahal telah kita ketahui di atas bahwa manusia lebih mulia daripada jin dan apabila seseorang memohon pertolongan kepada yang lainnya, berarti dia telah merendahkan diri kepada orang yang dimohonnya itu.
Ayat yang mulia ini memberikan pelajaran yang sangat tinggi sekali kepada kita, agar kita tidak sekali-kali meminta perlindungan kepada jin.
===
(14) Lihat kitab Tafsir al-Qurthubi ketika menafsirkan surah al-Baqarah ayat 34, kemudian Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam kitabnya 'Aqidatul Mu'min halaman 218 berkata:
"Jin itu lebih rendah derajatnya dan kemuliaannya dari manusia, walaupun jin yang shalih sekalipun, berdasarkan firman Allah:
'Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluq yang telah Kami ciptakan.' (Qur-an Surah al-Israa': ayat 70)
Belum pernah ada pemuliaan seperti ini dalam satupun kitab-kitab suci, maupun dalam sabda seorang Rasul dari Rasul-rasul Allah 'alaihimush shalatu wa sallam.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Kelima:
Mana yang lebih mulia antara manusia dan jin? Saya tidak ragu lagi untuk mengatakan bahwa manusia lebih mulia daripada jin. Bahkan sebagian 'ulama kita mengatakan bahwa manusia lebih mulia dari Malaikat, walaupun hal ini masih diperselisihkan (14). Akan tetapi tentang jin, saya belum pernah menemukan perselisihan di antara para 'ulama bahwa manusia itu lebih mulia kedudukannya daripada jin.
Adapun ketaqwaannya, maka berlakulah keumuman firman Allah dalam Qur-an surah al-Hujuraat ayat 13:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Manusia yang durhaka dengan jin yang taqwa, lebih mulia jin. Apabila ditinjau dari jenisnya, maka tidak diragukan lagi bahwa manusia itu lebih mulia daripada jin, dalilnya adalah firman Allah dalam Qur-an surah al-Baqarah ayat 34:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir."
Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongaan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur dan besar kepala. Allah berfirman dalam Qur-an surah al-Jin ayat 6:
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta pertolongan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan."
Ayat ini juga menunjukkan bahwa jin itu ada yang laki-laki dan ada yang perempuan, sama seperti manusia, sebagaimana yang akan saya terangkan, insya Allahu Ta'ala.
Ayat ini juga menceritakan perbuatan orang-orang jahiliyah, yakni apabila mereka hendak melewati suatu lembah, mereka memohon kepada penunggu lembah tersebut (yaitu jin) supaya mereka dapat terhindar dari marabahaya. Perbuatan ini persis seperti yang dilakukan sebagian kaum kita. Ketika sebagian kaum kita hendak membangun jembatan, maka disediakanlah kepala kerbau untuk memohon perlindungan dari marabahaya kepada penunggu jembatan tersebut dan yang seperti ini banyak sekali. Jika mereka hendak buang air kecil di pohon-pohon yang dianggap keramat dan ada penunggunya dari kalangan jin, mereka harus mengucapkan "numpang-numpang" sebanyak tiga kali, begitulah yang terjadi pada kaum kita.
Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang membuat jin semakin besar kepala dan bangga. Mengapa manusia yang lebih mulia meminta kepada yang lebih rendah darinya? Padahal telah kita ketahui di atas bahwa manusia lebih mulia daripada jin dan apabila seseorang memohon pertolongan kepada yang lainnya, berarti dia telah merendahkan diri kepada orang yang dimohonnya itu.
Ayat yang mulia ini memberikan pelajaran yang sangat tinggi sekali kepada kita, agar kita tidak sekali-kali meminta perlindungan kepada jin.
===
(14) Lihat kitab Tafsir al-Qurthubi ketika menafsirkan surah al-Baqarah ayat 34, kemudian Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam kitabnya 'Aqidatul Mu'min halaman 218 berkata:
"Jin itu lebih rendah derajatnya dan kemuliaannya dari manusia, walaupun jin yang shalih sekalipun, berdasarkan firman Allah:
'Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluq yang telah Kami ciptakan.' (Qur-an Surah al-Israa': ayat 70)
Belum pernah ada pemuliaan seperti ini dalam satupun kitab-kitab suci, maupun dalam sabda seorang Rasul dari Rasul-rasul Allah 'alaihimush shalatu wa sallam.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Jin adalah satu bangsa yang besar dan terbagi-bagi
Bab pertama
Alam jin
Keempat:
Jin adalah satu bangsa yang besar dan terbagi-bagi, sehingga iblis termasuk salah satu bangsa jin. Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam surah al-Kahfi ayat 50:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada Aku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim."
Berdasarkan ayat yang mulia ini, kita ketahui bahwa jin mempunyai bangsa yang demikian besar dan mereka terbagi-bagi. Dan iblis adalah salah satu bagian dari bangsa jin (13). Dan jin yang mengikuti iblis itulah yang kafir.
===
(13) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam kitab Majmu' Fatawa 4/235 berpendapat, "Bahwasanya iblis itu merupakan asal-usul jin, sebagaimana juga Adam adalah asal manusia." Namun tidak ada keterangan yang menerangkan demikian, bahkan ayat di atas jelas sekali menyatakan bahwa iblis itu dari jin. Allahu a'lam.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Keempat:
Jin adalah satu bangsa yang besar dan terbagi-bagi, sehingga iblis termasuk salah satu bangsa jin. Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam surah al-Kahfi ayat 50:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada Aku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim."
Berdasarkan ayat yang mulia ini, kita ketahui bahwa jin mempunyai bangsa yang demikian besar dan mereka terbagi-bagi. Dan iblis adalah salah satu bagian dari bangsa jin (13). Dan jin yang mengikuti iblis itulah yang kafir.
===
(13) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah dalam kitab Majmu' Fatawa 4/235 berpendapat, "Bahwasanya iblis itu merupakan asal-usul jin, sebagaimana juga Adam adalah asal manusia." Namun tidak ada keterangan yang menerangkan demikian, bahkan ayat di atas jelas sekali menyatakan bahwa iblis itu dari jin. Allahu a'lam.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Jin itu diciptakan lebih dahulu daripada manusia
Bab pertama
Alam jin
Ketiga:
Jin itu diciptakan lebih dahulu daripada manusia, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam surah al-Hijr ayat 26-27:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas."
Dari ayat di atas kita ketahui bahwa jin diciptakan lebih dahulu daripada manusia. (12)
===
(12) Lihat kitab 'Alamul jin wa syayathiin, karya Dr. Sulaiman al-Asyqar halaman 11.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin
Ketiga:
Jin itu diciptakan lebih dahulu daripada manusia, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam surah al-Hijr ayat 26-27:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas."
Dari ayat di atas kita ketahui bahwa jin diciptakan lebih dahulu daripada manusia. (12)
===
(12) Lihat kitab 'Alamul jin wa syayathiin, karya Dr. Sulaiman al-Asyqar halaman 11.
===
http://baitulkahfitangerang.blogspot.com/
daun bidara, daun bidara cina, jual daun bidara, kegunaan daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, khasiat daun bidara, mandi daun bidara, manfaat daun bidara, pokok daun bidara, serbuk daun bidara,
Alam jin: Jin ada yang mukmin dan ada juga yang kafir
Bab pertama
Alam jin
Kedua:
Jin ada yang mukmin dan ada juga yang kafir. Allah berfirman dalam surah al-Jin ayat 11:
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda."
Dari ayat yang mulia ini diketahui bahwa jin hidup sama seperti manusia, mereka ada yang mukmin dan ada yang kafir. Kekafirannya pun bermacam-macam sebagaimana kekafiran manusia. Demikian juga ada yang mukmin, bermacam-macam pula sebagaimana keimanannya manusia. (9)
Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus Sunnah wal jama'ah menurut pemahaman salafush shalih, ada yang mukmin pengikut kaum mu'tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid'ah lainnya. (10) Semua itu seperti apa yang dikatakan dan diisyaratkan oleh para imam kaum Muslimin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengatakan, "Bahwa jin itu ada yang ahlus Sunnah dan ada yang ahlul bid'ah. Yang ahlul bid'ah bermacam-macam, salah satunya ada yang sufi." (11)
Dari perkataan di atas, apabila kita bertemu dengan jin yang mengaku Muslim, maka masih harus dipertanyakan, Muslim yang mana? Ahlus Sunnah atau ahlul bid'ah? Kalau ahlul bid'ah, maka ahlul bid'ah tariqah yang mana? Sulit bagi kita untuk mengetahuinya.
Oleh karena itu, para Shahabat Nabi ridwanullah 'alaihim ajma'in, tidak ada yang dengan sengaja ingin memanggil jin atau berhubungan dengan jin atau berteman dengan jin. Saya tidak mendapatinya di dalam Sunnah ada seorang Shahabat yang melakukan hal itu dengan sengaja. Maksud saya adalah usaha mereka untuk berhubungan dengan jin dengan sengaja, kecuali kebetulan atau tiba-tiba mereka didatangi dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta'aala, bukan dengan kemauan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum sendiri. Karena kita tidak diperintahkan untuk mengurusi kehidupan jin. Mengurusi kehidupan manusia saja sudah sulit, apalagi kehidupan jin yang kita tidak tahu dimana rumah atau tempat tinggalnya dan lain sebagainya secara pasti, kecuali apa yang telah diterangkan dalam al-Qur-an dan as-Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
Oleh sebab itu, para Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak ada yang dengan sengaja untuk berhubungan dengan jin, kecuali sebagian mereka ada yang didatangi, tanpa ada rencana sedikitpun juga. Demikian juga para 'ulama kita. Kalau secara kebetulan sebagian dari mereka ada yang bertemu dengan jin, maka mereka mengajak jin itu kepada kebaikan. Dan tipu daya jin demikian banyaknya, sama dengan tipu daya manusia.
Intinya, bahwa jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana yang mereka katakan sendiri dalam firman Allah di atas.
===
(9) Lihat kitab 'Alamul jin wa syayathiin karya Dr. Sulaiman al-Asyqar halaman 62.
(10) Lihat keterangannya dalam kitab Tafsir al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan lain-lain ketika menafsirkan surah al-Jin ayat 11.
(11) Perkataan Syaikhul Islam ini tertera dalam kitab Risaalatul jin halaman 27 sebagaimana yang telah dinukil oleh Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali dalam kitab Wiqaayatul Insaani minal jinni wasy syaithaani halaman 15-17.
===
Sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.com
khasiat daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, manfaat daun bidara, kegunaan daun bidara, jual daun bidara, daun bidara cina, serbuk daun bidara, mandi daun bidara, pokok daun bidara
Alam jin
Kedua:
Jin ada yang mukmin dan ada juga yang kafir. Allah berfirman dalam surah al-Jin ayat 11:
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda."
Dari ayat yang mulia ini diketahui bahwa jin hidup sama seperti manusia, mereka ada yang mukmin dan ada yang kafir. Kekafirannya pun bermacam-macam sebagaimana kekafiran manusia. Demikian juga ada yang mukmin, bermacam-macam pula sebagaimana keimanannya manusia. (9)
Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus Sunnah wal jama'ah menurut pemahaman salafush shalih, ada yang mukmin pengikut kaum mu'tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid'ah lainnya. (10) Semua itu seperti apa yang dikatakan dan diisyaratkan oleh para imam kaum Muslimin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah mengatakan, "Bahwa jin itu ada yang ahlus Sunnah dan ada yang ahlul bid'ah. Yang ahlul bid'ah bermacam-macam, salah satunya ada yang sufi." (11)
Dari perkataan di atas, apabila kita bertemu dengan jin yang mengaku Muslim, maka masih harus dipertanyakan, Muslim yang mana? Ahlus Sunnah atau ahlul bid'ah? Kalau ahlul bid'ah, maka ahlul bid'ah tariqah yang mana? Sulit bagi kita untuk mengetahuinya.
Oleh karena itu, para Shahabat Nabi ridwanullah 'alaihim ajma'in, tidak ada yang dengan sengaja ingin memanggil jin atau berhubungan dengan jin atau berteman dengan jin. Saya tidak mendapatinya di dalam Sunnah ada seorang Shahabat yang melakukan hal itu dengan sengaja. Maksud saya adalah usaha mereka untuk berhubungan dengan jin dengan sengaja, kecuali kebetulan atau tiba-tiba mereka didatangi dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta'aala, bukan dengan kemauan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum sendiri. Karena kita tidak diperintahkan untuk mengurusi kehidupan jin. Mengurusi kehidupan manusia saja sudah sulit, apalagi kehidupan jin yang kita tidak tahu dimana rumah atau tempat tinggalnya dan lain sebagainya secara pasti, kecuali apa yang telah diterangkan dalam al-Qur-an dan as-Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
Oleh sebab itu, para Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak ada yang dengan sengaja untuk berhubungan dengan jin, kecuali sebagian mereka ada yang didatangi, tanpa ada rencana sedikitpun juga. Demikian juga para 'ulama kita. Kalau secara kebetulan sebagian dari mereka ada yang bertemu dengan jin, maka mereka mengajak jin itu kepada kebaikan. Dan tipu daya jin demikian banyaknya, sama dengan tipu daya manusia.
Intinya, bahwa jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana yang mereka katakan sendiri dalam firman Allah di atas.
===
(9) Lihat kitab 'Alamul jin wa syayathiin karya Dr. Sulaiman al-Asyqar halaman 62.
(10) Lihat keterangannya dalam kitab Tafsir al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan lain-lain ketika menafsirkan surah al-Jin ayat 11.
(11) Perkataan Syaikhul Islam ini tertera dalam kitab Risaalatul jin halaman 27 sebagaimana yang telah dinukil oleh Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali dalam kitab Wiqaayatul Insaani minal jinni wasy syaithaani halaman 15-17.
===
Sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.com
khasiat daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, daun bidara, manfaat daun bidara, kegunaan daun bidara, jual daun bidara, daun bidara cina, serbuk daun bidara, mandi daun bidara, pokok daun bidara
JUAL DAUN BIDARA UNTUK MANDI
JUAL DAUN BIDARA UNTUK MANDI. KITAB THAHARAH (PERIHAL BERSUCI)
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
a. Hal-Hal Yang Mewajibkannya:
1. Keluar mani, baik saat terjaga ataupun tidur
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.
“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [1]
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau berkata, “Ya, jika dia melihat air.” [2]
Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.
Berdasarkan sabda beliau:
إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.
“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.”[3]
Asy-Syaukani berkata, [4] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata, “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”
Barangsiapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barangsiapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani) sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab, ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab, ‘Dia tidak wajib mandi’.” [5]
2. Jima’, walaupun tidak keluar air mani
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.
“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi. Meskipun tidak keluar air mani.” [6]
3. Masuk Islamnya orang kafir
Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [7]
4. Terputusnya haidh dan nifas
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:
إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.
“Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [8]
Nifas dan haidh dihukumi sama secara ijma’.
5. Hari Jum’at
Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.
“Mandi hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [9]
b. Rukun-Rukunnya:
1. Niat
Berdasarkan hadits:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”
2. Meratakan air pada sekujur badan.
c. Tata Cara Yang Disunnahkan Ketika Mandi
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi janabah (junub), beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya.” [10]
Catatan:
Tidak wajib bagi seorang wanita mengurai rambutnya ketika mandi janabah (junub). Namun wajib dilakukan ketika mandi sehabis haidh.
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau berkata:
لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.
“Tidak, cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [11]
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi setelah selesai haidh. Beliau lalu bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata, “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik, “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”
Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau tentang mandi (junub) janabah. Beliau lalu bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.
“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [12]
Dalam hadits ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haidh dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haidh agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada mandi janabah tidak ditekankan hal tersebut. Dan hadits Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [13]
Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haidh yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.
Catatan:
Diperbolehkan bagi suami isteri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.
“Aku dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [14]
d. Mandi-Mandi Yang Disunnahkan:
1. Mandi pada setiap selesai jima’
Berdasarkan hadits Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggilir isteri-isterinya. Beliau mandi setiap selesai dari fulanah dan dari si fulanah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau berkata, “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [15]
2. Mandinya wanita mustahadhah (yang sedang haidh) setiap akan shalat
Atau sekali mandi untuk shalat Zhuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Shubuh sekali mandi.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. lalu Beliau menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [16]
Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata, “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zhuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Shubuh. [17]
3. Mandi setelah pingsan
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit parah. Beliau lalu berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.'” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadits ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [18]
4. Mandi setelah menguburkan orang musyrik
Berdasarkan hadits ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm dan berkata, “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau berkata, “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Mandilah.” [19]
5. Mandi pada dua hari raya dan hari ‘Arafah
Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata, “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyari’atkan dalam agama-pent).” Dia berkata, “(Mandi) hari jum’at, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”
6. Mandi setelah memandikan mayat
Berdasarkan sabda beliau:
مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.
“Barangsiapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [20]
7. Mandi untuk ihram ‘umrah atau haji
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, “Dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [21]
8. Mandi ketika memasuki kota Makkah
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya. [22]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122).
[2]. Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82).
[3]. Nailul Authaar (I/275).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348).
[6]. Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351).
[7]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafazh mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”
[8]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089).
[9]. Muttafaq ‘alaihi.
[10]. hahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603).
[11]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)).
[12]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[13]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[14]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129).
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590).
[16]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289).
[17]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184).
[18]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687).
[19]. Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198).
[20]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463).
[21]. Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831).
[22]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854).
Sumber: almanhaj dot or dot id
Baca juga artikel daun bidara dan pengobatan sihir.
Demikianlah artikel tentang jual daun bidara untuk mandi.
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
JUAL DAUN BIDARA: 3. Mandi
a. Hal-Hal Yang Mewajibkannya:
1. Keluar mani, baik saat terjaga ataupun tidur
Berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.
“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [1]
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau berkata, “Ya, jika dia melihat air.” [2]
Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.
Berdasarkan sabda beliau:
إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.
“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.”[3]
Asy-Syaukani berkata, [4] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata, “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”
Barangsiapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barangsiapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani) sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab, ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab, ‘Dia tidak wajib mandi’.” [5]
2. Jima’, walaupun tidak keluar air mani
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.
“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi. Meskipun tidak keluar air mani.” [6]
3. Masuk Islamnya orang kafir
Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [7]
4. Terputusnya haidh dan nifas
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:
إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.
“Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [8]
Nifas dan haidh dihukumi sama secara ijma’.
5. Hari Jum’at
Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.
“Mandi hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [9]
b. Rukun-Rukunnya:
1. Niat
Berdasarkan hadits:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”
2. Meratakan air pada sekujur badan.
c. Tata Cara Yang Disunnahkan Ketika Mandi
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi janabah (junub), beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya.” [10]
Catatan:
Tidak wajib bagi seorang wanita mengurai rambutnya ketika mandi janabah (junub). Namun wajib dilakukan ketika mandi sehabis haidh.
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau berkata:
لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.
“Tidak, cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [11]
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi setelah selesai haidh. Beliau lalu bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata, “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik, “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”
Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau tentang mandi (junub) janabah. Beliau lalu bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.
“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [12]
Dalam hadits ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haidh dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haidh agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada mandi janabah tidak ditekankan hal tersebut. Dan hadits Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [13]
Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haidh yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.
Catatan:
Diperbolehkan bagi suami isteri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.
“Aku dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [14]
d. Mandi-Mandi Yang Disunnahkan:
1. Mandi pada setiap selesai jima’
Berdasarkan hadits Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggilir isteri-isterinya. Beliau mandi setiap selesai dari fulanah dan dari si fulanah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau berkata, “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [15]
2. Mandinya wanita mustahadhah (yang sedang haidh) setiap akan shalat
Atau sekali mandi untuk shalat Zhuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Shubuh sekali mandi.
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. lalu Beliau menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [16]
Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata, “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zhuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Shubuh. [17]
3. Mandi setelah pingsan
Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit parah. Beliau lalu berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata, ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata, ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.'” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadits ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [18]
4. Mandi setelah menguburkan orang musyrik
Berdasarkan hadits ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm dan berkata, “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau berkata, “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Mandilah.” [19]
5. Mandi pada dua hari raya dan hari ‘Arafah
Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata, “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyari’atkan dalam agama-pent).” Dia berkata, “(Mandi) hari jum’at, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”
6. Mandi setelah memandikan mayat
Berdasarkan sabda beliau:
مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.
“Barangsiapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [20]
7. Mandi untuk ihram ‘umrah atau haji
Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, “Dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [21]
8. Mandi ketika memasuki kota Makkah
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya. [22]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122).
[2]. Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82).
[3]. Nailul Authaar (I/275).
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233).
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348).
[6]. Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351).
[7]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafazh mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”
[8]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089).
[9]. Muttafaq ‘alaihi.
[10]. hahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603).
[11]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)).
[12]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[13]. Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan.
[14]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129).
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590).
[16]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289).
[17]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184).
[18]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687).
[19]. Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198).
[20]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463).
[21]. Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831).
[22]. Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854).
Sumber: almanhaj dot or dot id
Baca juga artikel daun bidara dan pengobatan sihir.
Demikianlah artikel tentang jual daun bidara untuk mandi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
